Sabtu, 30 Maret 2013

Download Buku Fisika Univeritas

Silahkan download bukunya :)

1. Gerak Melingkar (pdf) silahkan download disini

2.
Hukum Newton di sini

3. Listrik Dinamis (pdf)
disini

4. Fluida (word)
disini

5. Gaya Gesek (word)
disini

6. Energi, Usaha dan Daya (word)
disini

7. Optika Geometri (word)
disini

8. Momentum dan Impuls (word)
disini

9. Relativitas (word)
disini

10. Termodinamika (word)
disini

11. Keseimbangan Benda Tegar (word) disini

12. Titik Berat (word)
disini

Download Buku dan Materi Fisika



Berikut ini buku dan materi fisika yang dapat anda download. Postingan ini dimuat bukan untuk mempromosikan pembajakan tetapi hanya ingin berbagi untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Kepada pengarang yang buku dan meterinya saya muat mohon maaf karena tak meminta izin terlebih dahulu. Semoga amal dan ibadah Anda mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
1. Listrik Magnet karangan Endarko dan Gatut Yudoyono Klik disini
2. Gerak karangan Pristiadi Utomo klik di sini
3. Gerak Melingkar karangan Pristiadi Utomo Klik di sini
4. Fisika Dasar I karangan Mirza satriawan klik di sini
5. Fisika Untuk SMK Jilid 1 karangan Mashuri dkk klik disini
6. Optika Geometri karangan Pristiadi Utomo klik di sini
7.Alat-Alat Optik karangan Pristiadi Utomo klik di sini
8. Listrik Dinamis karangan Pristiadi Utomo klik di sini




1. Gelombang mekanik silahkan download di sini

2. Energi, daya, dan sifat-sifat gelombang di sini
3. Efek zeeman adalah gejala tambahan garis-garis spektrum jika atom-atom tereksitasi diletakan dalam medan magnet.Selengkapnya silahkan download di sini
4. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang tidak memerlukan medium untuk merambat dan dapat merambat dalam ruang hampa. Berikut ini bahan ajar gelombang elektromagnetik dalam bentuk powerpoint, silahkan download di sini
5. teori kinetik gas,  di sini
6. Gerak Lurus.di sini
7. Pembiasan. di sini
8. Optika geometri. semoga bermanfaadi sini
9hukum kirchoff. di sini
10. listrik dinamis. di sini
11.vektor di sini
12. Energi Ikat Inti di sini
13.Peluruhan Radioaktif di sini


Download juga buku fisika dari luar negeri !


Download Buku Fisika Luar Negeri 


Postingan ini bukan untuk komersil atau mempromosikan pemabajakan tetapi hanya sekedar berbagi. Semoga bermanfaat
1. Vibration and Waves (Benjamin Crowell) download disini
2. Electricity and Magnetism (Benjamin Crowell) download disini

Senin, 11 Maret 2013

Titik Api Lensa Cembung

Gara-gara Abis kuliah optik tadi siang, ada yang nanya kenapa Lensa cembung yang punya sifat konvergen bisa membakar kertas? Darimana timbul titik api itu ?
 Okeh, kita bahas disinii ..
 
Lup  merupakan alat optik yang digunakan untuk memperbesar obyek ternyata juga dapat membakar kertas dibawah terik matahari. 

 
Mengapa bisa demikian?? Karena seperti yang diketahui bahwa lup itu terdiri dari lensa cembung yang merupakan lensa positif dimana lensa positif itu bekerja dengan mengumpulkan cahaya pada satu titik. Inilah yang menyebabkan sebuah kertas yang ditaruh dibawah lup pada kondisi dimana lup mendapatkan cahaya dari matahari dapat terbakar. Selain itu, cahaya yang juga punya energi panas, ikut mengumpulkan energi panasnya pada titik api tersebut. dari sinila kumpulan energi panas tersebut menyebabkan kertas menjadi terbakar. Maka dari itu saat kita pergi bertamasya ataupun melakukan pendakian gunung, bawa saja alat ini sebagai alat yang dapat membantu Anda dalam beberapa hal, Anda dapat mengamati benda kecil dengan jelas yang Anda temui saat perjalanan, sekaligus Anda akan mendapatkan api yang menghangatkan tubuh Anda serta membuat bahan makanan yang Anda bawa bisa dimakan dengan enak dan tetap hangat hanya dengan membakar kertas dibawah terik matahari dengan benda ini (itupun kalau ada cahaya yaa… jangan mengharap saat cuaca sedang mendung (hujan) ataupun gelap dapat membuat api yang Anda inginkan dengan alat ini.

Aberasi optik

Aberasi optik adalah degradasi kinerja suatu sistem optik dari standar pendekatan paraksial optika geometris. Degradasi yang terjadi dapat disebabkan sifat-sifat optik dari cahaya maupun dari sifat-sifat optik sistem kanta sebagai medium terakhir yang dilalui sinar sebelum mencapai mata pengamatnya.

Aberasi speris  adalah aberasi optik yang dilihat dari sudut pandang dengan titik berat geometri sistem optik (kanta, cermin dll). Penyimpangan paraksial yang terjadi lebih disebabkan karena faktor desain kanta yang tidak sempurna. Kanta tidak pernah memproyeksikan citra dengan sempurna, selalu terjadi distorsi atau aberasi pada tingkat tertentu oleh karena sifat fisis geometris kanta yang berakibat pada penurunan kualitas suatu citra karena sinar cahaya yang merambat melalui kanta tersebut tidak dapat diproyeksikan menuju ke titik api yang sama pada sumbu optis.

Koma negatif
Koma  adalah aberasi yang terjadi saat citra suatu obyek terproyeksi keluar dari sumbu optis kanta. Cahaya yang merambat menuju kanta dari sudut insiden θ, dari diameter insiden yang mendekati diameter kanta, akan terproyeksi ke titik api yang berbeda dan membentuk citra yang disebut lingkaran komatik (en:comatic circle), yang menjauhi sumbu optis kanta disebut koma positif dan yang mendekati sumbu optis disebut koma negatif. Lingkaran komatik terbentuk karena perbedaan rasio pembesaran kanta terhadap panjang gelombang sinar yang merambat melaluinya.
Distorsi (en:distortion, tilt) adalah aberasi optik yang terjadi pada pemetaan rektilinear antara bidang fokus dan bidang fokal. Pada distorsi terjadi variasi sudut pandang atau sudut liput sepanjang sumbu optis.
Distorsi terbagi menjadi dua bagian yaitu distorsi barrel dan distorsi pincushion.

Distorsi barrel

Distorsi pincushion

Astigmatisme
Astigmatisme adalah aberasi speris yang menyebabkan sinar cahaya yang merambat melalui kanta (lensa) membentuk lebih dari satu titik api pada sumbu optis.
Lens6a.png

Lens6b.png

Aberasi kromatik  adalah aberasi optik yang dilihat dari sudut pandang dengan penekanan pada sifat optik fisis cahaya. Walaupun pada sebuah kanta dengan bidang speris yang sempurna, setiap bahan kanta mempunyai indeks bias yang berbeda-beda bergantung pada panjang gelombang sinar cahaya yang merambat melaluinya dan menyebabkan sinar cahaya polikromatik tersebut terdispersi dan menyebabkan purple fringe/color fringe pada citra proyeksinya. Aberasi kromatik yang seperti ini dapat diminimalkan dengan kanta komposit doublet akromatik dengan bahan low dispersion glass untuk mengatasi aberasi longitudinal (panjang gelombang yang berbeda diproyeksikan ke titik api yang berbeda-beda pada sumbu optis) dan aberasi transversal/lateral (panjang gelombang yang berbeda diproyeksikan ke titik api yang berbeda pada bidang fokal).

Purple fringe
Jenis aberasi kromatik yang lain adalah tampaknya aura berwarna putih kebiruan disekeliling citra obyek. Jika aberasi kromatik di atas terjadi karena dispersi yang disebabkan perbedaan indeks bias, aberasi ini terjadi karena dispersi yang disebabkan karena perbedaan fase pada interferensi antara sinar backlight dan sinar difusinya yang terpantul dari antarmuka obyek.
Aberasi monokromatik sering juga disebut aberasi tingkat ketiga (en:third-order aberration) adalah aberasi yang terjadi walaupun sistem optik mempunyai kanta dengan bidang speris yang telah sempurna dan tidak terjadi dispersi cahaya.

Muka gelombang sinar yang datar, setelah melewati kanta akan berinterferensi dengan muka gelombang sinar di sekitarnya dan menjadi muka gelombang aberasi yang berbentuk speris.

Aberasi kurva medan adalah sebuah aberasi pada sistem optik yang mempunyai bidang fokal menyerupai lingkaran/kurva.

Selasa, 26 Februari 2013

Paradigma Penelitian Pendidikan


2.1 Pengertian Paradigma Penelitian Pendidikan

Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian

Paradigma penelitian diabdikan untuk menjawab masalah dan menjelaskan pencapaian tujuan penelitian sesuai dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, pemahaman peneliti mengenai masalah penelitian apa yang akan dipecahkan melalui penelitian, tujuan apa yang akan dicapai, dan bagaimana karakteristik data yang akan dikumpulkan sangat penting sebelum menetapkan paradigma tertentu yang akan dipilih. Ibaratnya, paradigma penelitian merupakan alat potong atau pisau bedah yang akan digunakan peneliti untuk membedah “hutan masalah” penelitian. Itu berarti, jenis dan karakteristik “hutan masalah” akan mengarahkan peneliti dalam memilih alat potong atau pisau bedah tertentu.

Dalam referensi penelitian, istilah yang digunakan itu menyebut paradigma beragam, ada yang menggunakan paradigma, tipe, atau desain. Belum lagi dikacaukan dengan metodologi dan metode. Paradigma (paradigm) bersifat perspektif atau berisi pandangan-pandangan penelitian sejalan dengan paradigma yang dipilih.


2.2 Jenis- Jenis Penelitian

·          Berdasarkan Pendekatan :

1.      Penelitian Kuantitatif

Paradigma penelitian kualitatif adalah paradigma penelitian yang berisi pandangan-pandangan atau keyakinan bahwa fokus penelitian adalah kualitas (hakikat dan esensi), akar filsafat yang dianut di antaranya adalah fenomenologi dan interaksi simbolik, aktivitas utamanya adalah kerja lapangan, etnografis, grounded, tujuannya adalah pemahaman, deskripsi, temuan, dan pemunculan hipotesis, desain yang digunakan bersifat lentur, fleksibel, berevolusi, dinamis, latar penelitiannya alamiah, sumber data yang dijadikan sasaran kecil, tidak acak, pengumpulan data dengan memanfaatkan peneliti sebagai instrumen utama, modus analisis induktif, dan temuannya komprehensif dan holistik serta mementingkan transferabilitas (Alwasilah, 2002).

Paradigma penelitian selalu dihubungkan dengan penelitian kuantitatif yang didasarkan pada postpositivisme. Penelitian kuantitatif mencakup penelitian survai, deskriptif causal comparative, retrospektif (ex-post facto), pre-experimental, quasi-experimental, true experimental, korelasional, dan eksperimen kompleks dengan banyak variabel dan perlakuan (seperti desain faktorial dan desain pengukuran berulang).
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist).

Paradigma penelitian kuantitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan berapa banyak suatu fenomena, bagaimana hubungan antaraspek, datanya bersifat numerikal, dapat diukur, ”bebas” konteks, dan untuk menguji teori.

            Ciri Paradigma penelitian kuantitatif :

a.              Paradigma tradisional, positivis, eksperimental, empiris.

b.             Menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

c.              Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal.

d.             Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti.

e.              Bebas nilai dan tidak bias.

f.               Pendekatan deduktif.

g.              Pengujian teori dan analisis kuantitatif.

 

2.      Penelitian Kualitatif

Paradigma penelitian kuantitatif adalah paradigma penelitian yang mempunyai keyakinan bahwa fokus penelitian merujuk kepada kuantitas (berapa banyak) dengan menggunakan landasan filsafat positivisme dan empirisme. Kegiatan penelitian ini di antaranya dilakukan melalui eksperimen dengan menggunakan analisis statistik. Tujuan penelitian diarahkan kepada deskripsi, prediksi, kontrol, dan pebuktian hipotesis. Desain ditentukan lebih awal dan cenderung terstruktur ”sempurna” dengan menggunakan sampel besar, acak, dan representatif. Pengumpulan data menggunakan tes, skala angka, survei, kuesener, dan hasilnya dianalisis menggunakan statistik untuk memperoleh temuan yang persis untuk melakukan generalisasi.

Paradigma penelitian kualitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan apa dan mengapa suatu fenomena terjadi, datanya verbal, interpretatif, multirealitas dan multitafsir, bergantung konteks, dan untuk mengembangkan teori.


            Ciri paradigma penelitian kualitatif :

a.              Pendekatan konstruktifis, naturalistis (interpretatif), atau perspektif postmodern.

b.             Menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas.

c.              Realitas bersifat subyektif dan berdimensi banyak.

d.             Peneliti berinteraksi dengan fakta yang diteliti.

e.              Tidak bebas nilai dan bias.

f.               Pendekatan induktif.

g.              Penyusunan teori dengan analisis kualitatif.

·          Berdasarkan Fungsi :


1.    Penelitian Dasar

Penelitian dasar yang sering disebut sebagai basic research atau pure research dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan. Penelitian dasar ini tidak ditujukan secara langsung untuk mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan khusus. Penelitian dasar dilakukan untuk memverifikasi teori yang sudah ada atau mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep. Hal pertama sekali yang harus dilakukan dalam penelitian dasar adalah pengujian konsep atau hipotesis awal dan kemudian pembuatan kajian lebih dalam serta kesimpulan tentang fenomena yang diamati. (wibisono, 2002: 4-5)

Penelitian dasar dibedakan atas pendekatan yang digunakan dalam pengembangan teori yaitu:

§   Penelitian deduktif, yaitu penelitian yang bertujuan menguji teori pada keadaan tertentu.

§   Penelitian induktif,yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (generating) teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta.


Penelitian dasar  lebih  diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan,  dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial.  Hasil penelitian dasar mungkin belum  dapat  dimanfaatkan  secara  langsung  akan  tetapi sangat berguna untuk kehidupan yang lebih baik. Tujuan penelitian dasar adalah untuk  menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar,  hukum-hukum ilmiah,  serta untuk  meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah (Sukmadinata, 2005).

Tingkat  generalisasi hasil penelitian dasar bersifat abstrak dan umum serta berlaku secara universal. Penelitian dasar tidak diarahkan untuk memecahkan masalah praktis akan tetapi prinsip-prinsip atau teori yang dihasilkannya dapat mendasari pemecahan masalah praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis.  Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan adalah penelitian dalam bidang psikologi, misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perikalu manusia. Hasil penelitian tersebut sering digunakan sebagai landasan dalam pengembangan sikap untuk merubah perilaku melalui proses pembelajaran/pendidikan.


2.    Penelitian Terapan

Penelitian terapan berbeda dengan penelitian dasar, penelitian terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang khusus atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kebijakan khusus. Penggunaan metode ilmiah dalam penelitian terapan menjamin objektivitas dalam mengumpulkan fakta dan menguji ide kreatif bagi alternatif strategi bisnis. Penelitian terapan dibedakan atas:

§   Penelitian dan pengembangan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk sehingga produk tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik.

§   Penelitian tindakan, yaitu penelitian yang dilakukan untuk segera digunakan sebagai dasar tindakan pemecahan masalah.

            Penelitian terapan  atau  applied research  dilakukan  berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan,  dan pengembangan  ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.

Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi tentang masalah-masalah tertentu. Tujuan utama penelitian terapan adalah pemecahan masalah sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu  atau  kelompok maupun  untuk  keperluan industri atau  politikdan  bukan untuk wawasan keilmuan  semata  (Sukardi, 2003). Dengan kata lain penelitian terapan adalah  satu jenis  penelitian yang hasilnya dapat  secara langsung diterapkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui hubungan empiris dan analisis dalam bidang-bidang tertentu.  Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan bersifat umum, bukan rekomendasi berupa tindakan langsung. Setelah sejumlah studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu, pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berpikir dan persepsi para praktisi.

Penelitian terapan lebih difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang-bidang tertentu bukan pengetahuan yang bersifat universal misalnya bidang kedokteran, pendidikan, atau  teknologi.  Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktek baru serta pengembangan metodologi untuk kepentingan praktis.

Penelitian terapan dapat pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan tindakan aplikatif yang dapat dipraktekan bagi pemecahan masalah tertentu. Hasil penelitian terapan tidak perlu sebagai suatu penemuan baru tetapi meupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada (Nazir, 1985). Akhir-akhir ini, penelitian terapan telah berkembang dalam bentuk yang lebih khusus yaitu  penelitian kebijakan  (Majchrzak, 1984). Penelitian kebijakan  berawal  dari  permasalahan praktik dengan maksud memecahkan masalah-masalah sosial. Hasil penelitian  biasanya dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.

 

3.    Penelitian Evaluatif

Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian terapan namun tujuannya dapat dibedakan dari penelitian terapan. Penelitian ini  dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan  suatu program, produk atau kegiatan tertentu (Danim, 2000). Penelitian ini diarahkan untuk menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan dan kelayakan suatu program kegiatan dari suatu unit/  lembaga tertentu. Penelitian evaluatif dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan lebih lanjut, serta membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan (Sukmadinata, 2005). Penelitian evaluatif  dapat dirancang untuk menjawab pertanyaan, menguji, atau membuktikan hipotesis. Makna evaluatif menunjuk pada kata kerja yang menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah evaluasi.

Penelitian evaluatif menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek, yang biasanya merupakan pelaksanaan dan rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian evaluatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi,  yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan evaluasi. Melakukan evaluasi berarti menunjukkan kehati-hatian karena ingin mengetahui apakah implementasi program  yang  telah  direncanakan sudah berjalan dengan benar dan sekaligus memberikan hasil sesuai dengan harapan. Jika belum bagian mana yang belum sesuai serta apa yang menjadi penyebabnya.

Penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama yaitu pengukuran atau pengambilan data dan membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang digunakan. Berdasarkan hasil perbandingan ini maka akan didapatkan  kesimpulan bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu layak atau tidak, relevan atau tidak, efisien dan efektif atau tidak. Atas dasar kegiatan tersebut,  penelitian evaluatif  dimaksudkan untuk membantu perencana dalam pelaksanaan program, penyempurnaan dan perubahan program, penentuan keputusan  atas  keberlanjutan atau penghentian program, menemukan fakta-fakta dukungan dan penolakan terhadap program, memberikan sumbangan dalam pemahaman  suatu program serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkup penelitian evaluatif dalam  bidang  pendidikan  misalnya evaluasi  kurikulum, program pendidikan, pembelajaran, pendidik, siswa, organisasi dan manajemen.

Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi adalah adanya standar, tolok ukur atau kriteria. Mengevaluasi  adalah melaksanakan upaya untuk mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, kemudian dibandingkan dengan kriteria agar dapat diketahui kesenjangan antara kondisi nyata dengan kriteria  (kondisi yang diharapkan). Penelitian evaluatif bukan sekedar  melakukan evaluasi pada umumnya. Penelitian evaluatif merupakan kegiatan evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku bagi sebuah penelitian, yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan metodologi secara benar  sehingga dapat  dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan  makna  tersebut, penelitian evaluatif  harus  memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Arikunto, 2006):

1.        Proses kegiatan  penelitian tidak menyimpang dari  kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian ilmiah pada umumnya.

2.        Dalam melaksanakan  evaluasi, peneliti berpikir sistemik yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dan beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dan objek yang dievaluasi.

3.        Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dan objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.

4.        Menggunakan standar, kriteria,  dan  tolok ukur  yang jelas untuk setiap indikator yang dievaluasi agar dapat diketahui dengan cermat keunggulan dan kelemahan program.

5.        Agar  informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana  dari  program yang belum terlaksana, perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi sub komponen, dan sampai pada indikator dan program yang dievaluasi.

6.        Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

7.        Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan/rekomendasi bagi kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria, atau tolak ukur.

 

Berdasarkan Tujuan

1.      Penelitian Deskriftif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian  berlangsung.  Melalui  penelitian deskriptif,  peneliti berusaha  mendeskripsikan  peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian  tanpa  memberikan  perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal  (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.

Penelitian deskriptif sesuai karakteristiknya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya.  Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1.        Perumusan masalah.  Metode penelitian manapun harus diawali dengan adanya masalah, yakni pengajuan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang jawabannya harus dicari  menggunakan data dari lapangan. Pertanyaan masalah mengandung variabel-variabel yang menjadi  kajian dalam studi ini. Dalam penelitian deskriptif peneliti dapat menentukan status variabel atau mempelajari hubungan antara variabel.

2.        Menentukan jenis informasi yang diperlukan.  Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan informasi apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Apakah informasi kuantitatif ataukah kualitatif. Informasi kuantitatif berkenaan dengan data atau informasi dalam bentuk bilangan/angka seperti.

3.        Menentukan prosedur pengumpulan data.  Ada dua unsur penelitian yang diperlukan, yakni instrumen atau alat pengumpul data dan sumber data atau sampel yakni dari mana informasi itu sebaiknya diperoleh. Dalam penelitian ada sejumlah alat pengumpul data antara lain tes, wawancara, observasi, kuesioner, sosiometri. Alat-alat tersebut lazim digunakan dalam penelitian deskriptif. Misalnya untuk memperoleh informasi mengenai langkah-langkah guru mengajar, alat atau instrumen yang tepat digunakan adalah observasi atau pengamatan. Cara lain yang mungkin dipakai  adalah wawancara dengan guru mengenai langkah-langkah mengajar. Agar diperoleh sampel yang jelas,  permasalahan penelitian harus dirumuskan se-khusus mungkin sehingga memberikan arah yang pasti terhadap instrumen dan sumber data.

4.        Menentukan prosedur pengolahan informasi atau data.  Data dan informasi yang telah diperoleh dengan instrumen yang dipilih dan sumber data atau sampel tertentu masih merupakan informasi atau data kasar. Informasi dan data tersebut perlu diolah agar dapat dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

5.        Menarik kesimpulan penelitian.  Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpulkan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan penelitian secara keseluruhan.

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau hubungan antara fenomena yang diuji. Dalam penelitian ini, peneliti telah memiliki definisi jelas tentang subjek penelitian dan akan menggunakan pertanyaan who dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menghasilkan gambaran akurat tentang sebuah kelompok, menggambarkan mekanisme sebuah proses atau hubungan, memberikan gambaran lengkap baik dalam bentuk verbal atau numerikal, menyajikan informasi dasar akan suatu hubungan, menciptakan seperangkat kategori dan mengklasifikasikan subjek penelitian, menjelaskan seperangkat tahapan atau proses, serta untuk menyimpan informasi bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian.

 

2.      Penelitian Prediktif

Tipe lain dari penelitian pengetahuan adalah yang mencakup ramalan (prediksi), yaitu kecakapan meramalkan fenomena (gejala) yang akan terjadi pada waktu tertentu dengan menggunakan informasi dari waktu sebelumnya. Banyak studi-studi ramalan telah dilakukan oleh para peneliti pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang meramalkan keberhasilan para siswa di sekolah dan dunia kerja.

Tujuan lain dari penelitian prediksi adalah untuk mengidentifikasi para siswa yang mungkin tidak akan berhasil pada urutan berikutnya sehingga dengan demikian program pencegahan dapat dilembagakan. Sebagai contoh, dengan mengumpulkan berbagai informasi yang berbeda mengenai para siswa di kelas enam, dan mengamatinya sampai mereka lulus dari sekolah menengah atau drop out, para peneliti dapat menentukan informasi mana yang memberikan prediksi paling baik. Pengetahuan prediksi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi para siswa kelas enam yang memiliki risiko drop out.

 

3.      Penelitian Improftif

Penelitian inproftif (improvetive reasearch) ditujukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau menyempurnakan suatu keadaan, kegiatan atau pelaksanaan suatu program.

Secara umum, studi penelitian improftif ini direncanakan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai intervensi-intervensi yang mengontrol fenomena-fenomena penting. Sebagai contoh, seorang ahli fisiologi menempatkan suatu elektroda yang ditanamkan pada otak seekor tikus untuk mengetahui apakah intervensi (campur tangan) tersebut mempengaruhi aktivitas otak tikus. Apabila penempatan elektroda pada otak tikus tersebut (intervensi X) mempengaruhi aktivitas otak utama tikus (gejala Y), kita mengatakan bahwa penempatan electroda tersebut “mengontrol” aktivitas otak. Karena umumnya intervensi dalam penelitian pendidikan bertujuan untuk meningkatkkan nilai outcome seperti pengetahuan para siswa, kita  mengatakan bahwa penelitian ini diorientasikan pada peningkatan (daripada pengontrolan).

Banyak studi penelitian yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi intervensi atau faktor-faktor yang ditranformasikan sebagai intervensi untuk meningkatkan pencapaian/prestasi akademik para siswa. Herbert Walberg dan kawan-kawannya telah mensistesis hampir 3.000 studi semacam ini untuk mengidentifikasi potensi intervensi yang dapat meningkatkan performan para siswa dengan melakukan bermacam-macam pengukuran terhadap prestasi akademik. Sintesis Walberg mengenai penelitian ini menunjukkan bahwa para peneliti pendidikan telah menemukan beberapa intervensi yang efektif untuk meningkatkan prestasi akademik para siswa. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan intervensi-intervensi lain yang membuat pendidikan lebih efektif melalui setting pendidikan yang berbeda dan untuk tipe-tipe siswa yang berbeda pula.

4.      Penelitian Eksplanatif

Penelitian eksplanatif (penjelasan) merupakan yang paling penting dari seluruh penelitian lainnya. Dengan arti tipe pengetahuan ini mencakup tiga pengetahuan  lainnya. Jika para peneliti dapat menjelaskan satu perangkat fenomena, artinya mereka dapat mendeskripsikan, meramalkan, dan mengontrol fenomena dengan tingkat kepastian dan akurasi yang tinggi. Penelitian eksplanasi memberikan teori-teori mengenai gejala-gejala yang akan diselidiki. Banyak teori-teori penting yang telah dikembangkan oleh para peneliti pendidikan. Sebagai contoh adalah teori produktivitas pendidikan yang telah dikembangkan oleh Herbert Walberg. Teori tersebut, memiliki persamaan dengan teori yang dikembangkan oleh Benyamin Bloom, John carroll, Robert Glaser, dan lainnya yang berusaha menjelaskan mengapa beberapa siswa belajar lebih banyak dari siswa lainnya dan bagaimana belajar dapat ditambah. Ilmu pengetahuan teoritis merupakan sesuatu yang penting kerena akan memberikan “formula” yang lebih ringkas untuk meramalkan dan mengontrol gejala-gejala yang menyangkut individu-individu yang berbeda , setting, dan kejadian pada waktu yang berbeda.

Herberg Walberg (dalam Walter R. Berg) memberikan summary bahwa penelitian pendidikan menghasilkan empat jenis pengetahuan penting yaitu: deskripsi mengenai fenomena pendidikan; prediksi mengenai fenomena pendidikan; informasi mengenai pengaruh-pengaruh dari peningkatan-yang berorientasi intervensi; dan teori-teori. Dalam merefleksikan kerja mereka, para peneliti pendidikan memelihara pengembangan ilmu pengetahuan baru mengenai bagaimana merencanakan dan melaksanakan penelitian.

Sabtu, 30 Maret 2013

Download Buku Fisika Univeritas

Silahkan download bukunya :)

1. Gerak Melingkar (pdf) silahkan download disini

2.
Hukum Newton di sini

3. Listrik Dinamis (pdf)
disini

4. Fluida (word)
disini

5. Gaya Gesek (word)
disini

6. Energi, Usaha dan Daya (word)
disini

7. Optika Geometri (word)
disini

8. Momentum dan Impuls (word)
disini

9. Relativitas (word)
disini

10. Termodinamika (word)
disini

11. Keseimbangan Benda Tegar (word) disini

12. Titik Berat (word)
disini

Download Buku dan Materi Fisika



Berikut ini buku dan materi fisika yang dapat anda download. Postingan ini dimuat bukan untuk mempromosikan pembajakan tetapi hanya ingin berbagi untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Kepada pengarang yang buku dan meterinya saya muat mohon maaf karena tak meminta izin terlebih dahulu. Semoga amal dan ibadah Anda mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
1. Listrik Magnet karangan Endarko dan Gatut Yudoyono Klik disini
2. Gerak karangan Pristiadi Utomo klik di sini
3. Gerak Melingkar karangan Pristiadi Utomo Klik di sini
4. Fisika Dasar I karangan Mirza satriawan klik di sini
5. Fisika Untuk SMK Jilid 1 karangan Mashuri dkk klik disini
6. Optika Geometri karangan Pristiadi Utomo klik di sini
7.Alat-Alat Optik karangan Pristiadi Utomo klik di sini
8. Listrik Dinamis karangan Pristiadi Utomo klik di sini




1. Gelombang mekanik silahkan download di sini

2. Energi, daya, dan sifat-sifat gelombang di sini
3. Efek zeeman adalah gejala tambahan garis-garis spektrum jika atom-atom tereksitasi diletakan dalam medan magnet.Selengkapnya silahkan download di sini
4. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang tidak memerlukan medium untuk merambat dan dapat merambat dalam ruang hampa. Berikut ini bahan ajar gelombang elektromagnetik dalam bentuk powerpoint, silahkan download di sini
5. teori kinetik gas,  di sini
6. Gerak Lurus.di sini
7. Pembiasan. di sini
8. Optika geometri. semoga bermanfaadi sini
9hukum kirchoff. di sini
10. listrik dinamis. di sini
11.vektor di sini
12. Energi Ikat Inti di sini
13.Peluruhan Radioaktif di sini


Download juga buku fisika dari luar negeri !


Download Buku Fisika Luar Negeri 


Postingan ini bukan untuk komersil atau mempromosikan pemabajakan tetapi hanya sekedar berbagi. Semoga bermanfaat
1. Vibration and Waves (Benjamin Crowell) download disini
2. Electricity and Magnetism (Benjamin Crowell) download disini

Senin, 11 Maret 2013

Titik Api Lensa Cembung

Gara-gara Abis kuliah optik tadi siang, ada yang nanya kenapa Lensa cembung yang punya sifat konvergen bisa membakar kertas? Darimana timbul titik api itu ?
 Okeh, kita bahas disinii ..
 
Lup  merupakan alat optik yang digunakan untuk memperbesar obyek ternyata juga dapat membakar kertas dibawah terik matahari. 

 
Mengapa bisa demikian?? Karena seperti yang diketahui bahwa lup itu terdiri dari lensa cembung yang merupakan lensa positif dimana lensa positif itu bekerja dengan mengumpulkan cahaya pada satu titik. Inilah yang menyebabkan sebuah kertas yang ditaruh dibawah lup pada kondisi dimana lup mendapatkan cahaya dari matahari dapat terbakar. Selain itu, cahaya yang juga punya energi panas, ikut mengumpulkan energi panasnya pada titik api tersebut. dari sinila kumpulan energi panas tersebut menyebabkan kertas menjadi terbakar. Maka dari itu saat kita pergi bertamasya ataupun melakukan pendakian gunung, bawa saja alat ini sebagai alat yang dapat membantu Anda dalam beberapa hal, Anda dapat mengamati benda kecil dengan jelas yang Anda temui saat perjalanan, sekaligus Anda akan mendapatkan api yang menghangatkan tubuh Anda serta membuat bahan makanan yang Anda bawa bisa dimakan dengan enak dan tetap hangat hanya dengan membakar kertas dibawah terik matahari dengan benda ini (itupun kalau ada cahaya yaa… jangan mengharap saat cuaca sedang mendung (hujan) ataupun gelap dapat membuat api yang Anda inginkan dengan alat ini.

Aberasi optik

Aberasi optik adalah degradasi kinerja suatu sistem optik dari standar pendekatan paraksial optika geometris. Degradasi yang terjadi dapat disebabkan sifat-sifat optik dari cahaya maupun dari sifat-sifat optik sistem kanta sebagai medium terakhir yang dilalui sinar sebelum mencapai mata pengamatnya.

Aberasi speris  adalah aberasi optik yang dilihat dari sudut pandang dengan titik berat geometri sistem optik (kanta, cermin dll). Penyimpangan paraksial yang terjadi lebih disebabkan karena faktor desain kanta yang tidak sempurna. Kanta tidak pernah memproyeksikan citra dengan sempurna, selalu terjadi distorsi atau aberasi pada tingkat tertentu oleh karena sifat fisis geometris kanta yang berakibat pada penurunan kualitas suatu citra karena sinar cahaya yang merambat melalui kanta tersebut tidak dapat diproyeksikan menuju ke titik api yang sama pada sumbu optis.

Koma negatif
Koma  adalah aberasi yang terjadi saat citra suatu obyek terproyeksi keluar dari sumbu optis kanta. Cahaya yang merambat menuju kanta dari sudut insiden θ, dari diameter insiden yang mendekati diameter kanta, akan terproyeksi ke titik api yang berbeda dan membentuk citra yang disebut lingkaran komatik (en:comatic circle), yang menjauhi sumbu optis kanta disebut koma positif dan yang mendekati sumbu optis disebut koma negatif. Lingkaran komatik terbentuk karena perbedaan rasio pembesaran kanta terhadap panjang gelombang sinar yang merambat melaluinya.
Distorsi (en:distortion, tilt) adalah aberasi optik yang terjadi pada pemetaan rektilinear antara bidang fokus dan bidang fokal. Pada distorsi terjadi variasi sudut pandang atau sudut liput sepanjang sumbu optis.
Distorsi terbagi menjadi dua bagian yaitu distorsi barrel dan distorsi pincushion.

Distorsi barrel

Distorsi pincushion

Astigmatisme
Astigmatisme adalah aberasi speris yang menyebabkan sinar cahaya yang merambat melalui kanta (lensa) membentuk lebih dari satu titik api pada sumbu optis.
Lens6a.png

Lens6b.png

Aberasi kromatik  adalah aberasi optik yang dilihat dari sudut pandang dengan penekanan pada sifat optik fisis cahaya. Walaupun pada sebuah kanta dengan bidang speris yang sempurna, setiap bahan kanta mempunyai indeks bias yang berbeda-beda bergantung pada panjang gelombang sinar cahaya yang merambat melaluinya dan menyebabkan sinar cahaya polikromatik tersebut terdispersi dan menyebabkan purple fringe/color fringe pada citra proyeksinya. Aberasi kromatik yang seperti ini dapat diminimalkan dengan kanta komposit doublet akromatik dengan bahan low dispersion glass untuk mengatasi aberasi longitudinal (panjang gelombang yang berbeda diproyeksikan ke titik api yang berbeda-beda pada sumbu optis) dan aberasi transversal/lateral (panjang gelombang yang berbeda diproyeksikan ke titik api yang berbeda pada bidang fokal).

Purple fringe
Jenis aberasi kromatik yang lain adalah tampaknya aura berwarna putih kebiruan disekeliling citra obyek. Jika aberasi kromatik di atas terjadi karena dispersi yang disebabkan perbedaan indeks bias, aberasi ini terjadi karena dispersi yang disebabkan karena perbedaan fase pada interferensi antara sinar backlight dan sinar difusinya yang terpantul dari antarmuka obyek.
Aberasi monokromatik sering juga disebut aberasi tingkat ketiga (en:third-order aberration) adalah aberasi yang terjadi walaupun sistem optik mempunyai kanta dengan bidang speris yang telah sempurna dan tidak terjadi dispersi cahaya.

Muka gelombang sinar yang datar, setelah melewati kanta akan berinterferensi dengan muka gelombang sinar di sekitarnya dan menjadi muka gelombang aberasi yang berbentuk speris.

Aberasi kurva medan adalah sebuah aberasi pada sistem optik yang mempunyai bidang fokal menyerupai lingkaran/kurva.

Selasa, 26 Februari 2013

Paradigma Penelitian Pendidikan


2.1 Pengertian Paradigma Penelitian Pendidikan

Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian

Paradigma penelitian diabdikan untuk menjawab masalah dan menjelaskan pencapaian tujuan penelitian sesuai dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, pemahaman peneliti mengenai masalah penelitian apa yang akan dipecahkan melalui penelitian, tujuan apa yang akan dicapai, dan bagaimana karakteristik data yang akan dikumpulkan sangat penting sebelum menetapkan paradigma tertentu yang akan dipilih. Ibaratnya, paradigma penelitian merupakan alat potong atau pisau bedah yang akan digunakan peneliti untuk membedah “hutan masalah” penelitian. Itu berarti, jenis dan karakteristik “hutan masalah” akan mengarahkan peneliti dalam memilih alat potong atau pisau bedah tertentu.

Dalam referensi penelitian, istilah yang digunakan itu menyebut paradigma beragam, ada yang menggunakan paradigma, tipe, atau desain. Belum lagi dikacaukan dengan metodologi dan metode. Paradigma (paradigm) bersifat perspektif atau berisi pandangan-pandangan penelitian sejalan dengan paradigma yang dipilih.


2.2 Jenis- Jenis Penelitian

·          Berdasarkan Pendekatan :

1.      Penelitian Kuantitatif

Paradigma penelitian kualitatif adalah paradigma penelitian yang berisi pandangan-pandangan atau keyakinan bahwa fokus penelitian adalah kualitas (hakikat dan esensi), akar filsafat yang dianut di antaranya adalah fenomenologi dan interaksi simbolik, aktivitas utamanya adalah kerja lapangan, etnografis, grounded, tujuannya adalah pemahaman, deskripsi, temuan, dan pemunculan hipotesis, desain yang digunakan bersifat lentur, fleksibel, berevolusi, dinamis, latar penelitiannya alamiah, sumber data yang dijadikan sasaran kecil, tidak acak, pengumpulan data dengan memanfaatkan peneliti sebagai instrumen utama, modus analisis induktif, dan temuannya komprehensif dan holistik serta mementingkan transferabilitas (Alwasilah, 2002).

Paradigma penelitian selalu dihubungkan dengan penelitian kuantitatif yang didasarkan pada postpositivisme. Penelitian kuantitatif mencakup penelitian survai, deskriptif causal comparative, retrospektif (ex-post facto), pre-experimental, quasi-experimental, true experimental, korelasional, dan eksperimen kompleks dengan banyak variabel dan perlakuan (seperti desain faktorial dan desain pengukuran berulang).
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist).

Paradigma penelitian kuantitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan berapa banyak suatu fenomena, bagaimana hubungan antaraspek, datanya bersifat numerikal, dapat diukur, ”bebas” konteks, dan untuk menguji teori.

            Ciri Paradigma penelitian kuantitatif :

a.              Paradigma tradisional, positivis, eksperimental, empiris.

b.             Menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

c.              Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal.

d.             Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti.

e.              Bebas nilai dan tidak bias.

f.               Pendekatan deduktif.

g.              Pengujian teori dan analisis kuantitatif.

 

2.      Penelitian Kualitatif

Paradigma penelitian kuantitatif adalah paradigma penelitian yang mempunyai keyakinan bahwa fokus penelitian merujuk kepada kuantitas (berapa banyak) dengan menggunakan landasan filsafat positivisme dan empirisme. Kegiatan penelitian ini di antaranya dilakukan melalui eksperimen dengan menggunakan analisis statistik. Tujuan penelitian diarahkan kepada deskripsi, prediksi, kontrol, dan pebuktian hipotesis. Desain ditentukan lebih awal dan cenderung terstruktur ”sempurna” dengan menggunakan sampel besar, acak, dan representatif. Pengumpulan data menggunakan tes, skala angka, survei, kuesener, dan hasilnya dianalisis menggunakan statistik untuk memperoleh temuan yang persis untuk melakukan generalisasi.

Paradigma penelitian kualitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan apa dan mengapa suatu fenomena terjadi, datanya verbal, interpretatif, multirealitas dan multitafsir, bergantung konteks, dan untuk mengembangkan teori.


            Ciri paradigma penelitian kualitatif :

a.              Pendekatan konstruktifis, naturalistis (interpretatif), atau perspektif postmodern.

b.             Menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas.

c.              Realitas bersifat subyektif dan berdimensi banyak.

d.             Peneliti berinteraksi dengan fakta yang diteliti.

e.              Tidak bebas nilai dan bias.

f.               Pendekatan induktif.

g.              Penyusunan teori dengan analisis kualitatif.

·          Berdasarkan Fungsi :


1.    Penelitian Dasar

Penelitian dasar yang sering disebut sebagai basic research atau pure research dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan. Penelitian dasar ini tidak ditujukan secara langsung untuk mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan khusus. Penelitian dasar dilakukan untuk memverifikasi teori yang sudah ada atau mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep. Hal pertama sekali yang harus dilakukan dalam penelitian dasar adalah pengujian konsep atau hipotesis awal dan kemudian pembuatan kajian lebih dalam serta kesimpulan tentang fenomena yang diamati. (wibisono, 2002: 4-5)

Penelitian dasar dibedakan atas pendekatan yang digunakan dalam pengembangan teori yaitu:

§   Penelitian deduktif, yaitu penelitian yang bertujuan menguji teori pada keadaan tertentu.

§   Penelitian induktif,yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (generating) teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta.


Penelitian dasar  lebih  diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan,  dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial.  Hasil penelitian dasar mungkin belum  dapat  dimanfaatkan  secara  langsung  akan  tetapi sangat berguna untuk kehidupan yang lebih baik. Tujuan penelitian dasar adalah untuk  menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar,  hukum-hukum ilmiah,  serta untuk  meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah (Sukmadinata, 2005).

Tingkat  generalisasi hasil penelitian dasar bersifat abstrak dan umum serta berlaku secara universal. Penelitian dasar tidak diarahkan untuk memecahkan masalah praktis akan tetapi prinsip-prinsip atau teori yang dihasilkannya dapat mendasari pemecahan masalah praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis.  Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan adalah penelitian dalam bidang psikologi, misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perikalu manusia. Hasil penelitian tersebut sering digunakan sebagai landasan dalam pengembangan sikap untuk merubah perilaku melalui proses pembelajaran/pendidikan.


2.    Penelitian Terapan

Penelitian terapan berbeda dengan penelitian dasar, penelitian terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang khusus atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kebijakan khusus. Penggunaan metode ilmiah dalam penelitian terapan menjamin objektivitas dalam mengumpulkan fakta dan menguji ide kreatif bagi alternatif strategi bisnis. Penelitian terapan dibedakan atas:

§   Penelitian dan pengembangan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk sehingga produk tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik.

§   Penelitian tindakan, yaitu penelitian yang dilakukan untuk segera digunakan sebagai dasar tindakan pemecahan masalah.

            Penelitian terapan  atau  applied research  dilakukan  berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan,  dan pengembangan  ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.

Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi tentang masalah-masalah tertentu. Tujuan utama penelitian terapan adalah pemecahan masalah sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu  atau  kelompok maupun  untuk  keperluan industri atau  politikdan  bukan untuk wawasan keilmuan  semata  (Sukardi, 2003). Dengan kata lain penelitian terapan adalah  satu jenis  penelitian yang hasilnya dapat  secara langsung diterapkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui hubungan empiris dan analisis dalam bidang-bidang tertentu.  Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan bersifat umum, bukan rekomendasi berupa tindakan langsung. Setelah sejumlah studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu, pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berpikir dan persepsi para praktisi.

Penelitian terapan lebih difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang-bidang tertentu bukan pengetahuan yang bersifat universal misalnya bidang kedokteran, pendidikan, atau  teknologi.  Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktek baru serta pengembangan metodologi untuk kepentingan praktis.

Penelitian terapan dapat pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan tindakan aplikatif yang dapat dipraktekan bagi pemecahan masalah tertentu. Hasil penelitian terapan tidak perlu sebagai suatu penemuan baru tetapi meupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada (Nazir, 1985). Akhir-akhir ini, penelitian terapan telah berkembang dalam bentuk yang lebih khusus yaitu  penelitian kebijakan  (Majchrzak, 1984). Penelitian kebijakan  berawal  dari  permasalahan praktik dengan maksud memecahkan masalah-masalah sosial. Hasil penelitian  biasanya dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.

 

3.    Penelitian Evaluatif

Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian terapan namun tujuannya dapat dibedakan dari penelitian terapan. Penelitian ini  dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan  suatu program, produk atau kegiatan tertentu (Danim, 2000). Penelitian ini diarahkan untuk menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan dan kelayakan suatu program kegiatan dari suatu unit/  lembaga tertentu. Penelitian evaluatif dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan lebih lanjut, serta membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan (Sukmadinata, 2005). Penelitian evaluatif  dapat dirancang untuk menjawab pertanyaan, menguji, atau membuktikan hipotesis. Makna evaluatif menunjuk pada kata kerja yang menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah evaluasi.

Penelitian evaluatif menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek, yang biasanya merupakan pelaksanaan dan rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian evaluatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi,  yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan evaluasi. Melakukan evaluasi berarti menunjukkan kehati-hatian karena ingin mengetahui apakah implementasi program  yang  telah  direncanakan sudah berjalan dengan benar dan sekaligus memberikan hasil sesuai dengan harapan. Jika belum bagian mana yang belum sesuai serta apa yang menjadi penyebabnya.

Penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama yaitu pengukuran atau pengambilan data dan membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang digunakan. Berdasarkan hasil perbandingan ini maka akan didapatkan  kesimpulan bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu layak atau tidak, relevan atau tidak, efisien dan efektif atau tidak. Atas dasar kegiatan tersebut,  penelitian evaluatif  dimaksudkan untuk membantu perencana dalam pelaksanaan program, penyempurnaan dan perubahan program, penentuan keputusan  atas  keberlanjutan atau penghentian program, menemukan fakta-fakta dukungan dan penolakan terhadap program, memberikan sumbangan dalam pemahaman  suatu program serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkup penelitian evaluatif dalam  bidang  pendidikan  misalnya evaluasi  kurikulum, program pendidikan, pembelajaran, pendidik, siswa, organisasi dan manajemen.

Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi adalah adanya standar, tolok ukur atau kriteria. Mengevaluasi  adalah melaksanakan upaya untuk mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, kemudian dibandingkan dengan kriteria agar dapat diketahui kesenjangan antara kondisi nyata dengan kriteria  (kondisi yang diharapkan). Penelitian evaluatif bukan sekedar  melakukan evaluasi pada umumnya. Penelitian evaluatif merupakan kegiatan evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku bagi sebuah penelitian, yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan metodologi secara benar  sehingga dapat  dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan  makna  tersebut, penelitian evaluatif  harus  memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Arikunto, 2006):

1.        Proses kegiatan  penelitian tidak menyimpang dari  kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian ilmiah pada umumnya.

2.        Dalam melaksanakan  evaluasi, peneliti berpikir sistemik yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dan beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dan objek yang dievaluasi.

3.        Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dan objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.

4.        Menggunakan standar, kriteria,  dan  tolok ukur  yang jelas untuk setiap indikator yang dievaluasi agar dapat diketahui dengan cermat keunggulan dan kelemahan program.

5.        Agar  informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana  dari  program yang belum terlaksana, perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi sub komponen, dan sampai pada indikator dan program yang dievaluasi.

6.        Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

7.        Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan/rekomendasi bagi kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria, atau tolak ukur.

 

Berdasarkan Tujuan

1.      Penelitian Deskriftif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian  berlangsung.  Melalui  penelitian deskriptif,  peneliti berusaha  mendeskripsikan  peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian  tanpa  memberikan  perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal  (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.

Penelitian deskriptif sesuai karakteristiknya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya.  Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1.        Perumusan masalah.  Metode penelitian manapun harus diawali dengan adanya masalah, yakni pengajuan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang jawabannya harus dicari  menggunakan data dari lapangan. Pertanyaan masalah mengandung variabel-variabel yang menjadi  kajian dalam studi ini. Dalam penelitian deskriptif peneliti dapat menentukan status variabel atau mempelajari hubungan antara variabel.

2.        Menentukan jenis informasi yang diperlukan.  Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan informasi apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Apakah informasi kuantitatif ataukah kualitatif. Informasi kuantitatif berkenaan dengan data atau informasi dalam bentuk bilangan/angka seperti.

3.        Menentukan prosedur pengumpulan data.  Ada dua unsur penelitian yang diperlukan, yakni instrumen atau alat pengumpul data dan sumber data atau sampel yakni dari mana informasi itu sebaiknya diperoleh. Dalam penelitian ada sejumlah alat pengumpul data antara lain tes, wawancara, observasi, kuesioner, sosiometri. Alat-alat tersebut lazim digunakan dalam penelitian deskriptif. Misalnya untuk memperoleh informasi mengenai langkah-langkah guru mengajar, alat atau instrumen yang tepat digunakan adalah observasi atau pengamatan. Cara lain yang mungkin dipakai  adalah wawancara dengan guru mengenai langkah-langkah mengajar. Agar diperoleh sampel yang jelas,  permasalahan penelitian harus dirumuskan se-khusus mungkin sehingga memberikan arah yang pasti terhadap instrumen dan sumber data.

4.        Menentukan prosedur pengolahan informasi atau data.  Data dan informasi yang telah diperoleh dengan instrumen yang dipilih dan sumber data atau sampel tertentu masih merupakan informasi atau data kasar. Informasi dan data tersebut perlu diolah agar dapat dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

5.        Menarik kesimpulan penelitian.  Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpulkan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan penelitian secara keseluruhan.

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau hubungan antara fenomena yang diuji. Dalam penelitian ini, peneliti telah memiliki definisi jelas tentang subjek penelitian dan akan menggunakan pertanyaan who dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menghasilkan gambaran akurat tentang sebuah kelompok, menggambarkan mekanisme sebuah proses atau hubungan, memberikan gambaran lengkap baik dalam bentuk verbal atau numerikal, menyajikan informasi dasar akan suatu hubungan, menciptakan seperangkat kategori dan mengklasifikasikan subjek penelitian, menjelaskan seperangkat tahapan atau proses, serta untuk menyimpan informasi bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian.

 

2.      Penelitian Prediktif

Tipe lain dari penelitian pengetahuan adalah yang mencakup ramalan (prediksi), yaitu kecakapan meramalkan fenomena (gejala) yang akan terjadi pada waktu tertentu dengan menggunakan informasi dari waktu sebelumnya. Banyak studi-studi ramalan telah dilakukan oleh para peneliti pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang meramalkan keberhasilan para siswa di sekolah dan dunia kerja.

Tujuan lain dari penelitian prediksi adalah untuk mengidentifikasi para siswa yang mungkin tidak akan berhasil pada urutan berikutnya sehingga dengan demikian program pencegahan dapat dilembagakan. Sebagai contoh, dengan mengumpulkan berbagai informasi yang berbeda mengenai para siswa di kelas enam, dan mengamatinya sampai mereka lulus dari sekolah menengah atau drop out, para peneliti dapat menentukan informasi mana yang memberikan prediksi paling baik. Pengetahuan prediksi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi para siswa kelas enam yang memiliki risiko drop out.

 

3.      Penelitian Improftif

Penelitian inproftif (improvetive reasearch) ditujukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau menyempurnakan suatu keadaan, kegiatan atau pelaksanaan suatu program.

Secara umum, studi penelitian improftif ini direncanakan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai intervensi-intervensi yang mengontrol fenomena-fenomena penting. Sebagai contoh, seorang ahli fisiologi menempatkan suatu elektroda yang ditanamkan pada otak seekor tikus untuk mengetahui apakah intervensi (campur tangan) tersebut mempengaruhi aktivitas otak tikus. Apabila penempatan elektroda pada otak tikus tersebut (intervensi X) mempengaruhi aktivitas otak utama tikus (gejala Y), kita mengatakan bahwa penempatan electroda tersebut “mengontrol” aktivitas otak. Karena umumnya intervensi dalam penelitian pendidikan bertujuan untuk meningkatkkan nilai outcome seperti pengetahuan para siswa, kita  mengatakan bahwa penelitian ini diorientasikan pada peningkatan (daripada pengontrolan).

Banyak studi penelitian yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi intervensi atau faktor-faktor yang ditranformasikan sebagai intervensi untuk meningkatkan pencapaian/prestasi akademik para siswa. Herbert Walberg dan kawan-kawannya telah mensistesis hampir 3.000 studi semacam ini untuk mengidentifikasi potensi intervensi yang dapat meningkatkan performan para siswa dengan melakukan bermacam-macam pengukuran terhadap prestasi akademik. Sintesis Walberg mengenai penelitian ini menunjukkan bahwa para peneliti pendidikan telah menemukan beberapa intervensi yang efektif untuk meningkatkan prestasi akademik para siswa. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan intervensi-intervensi lain yang membuat pendidikan lebih efektif melalui setting pendidikan yang berbeda dan untuk tipe-tipe siswa yang berbeda pula.

4.      Penelitian Eksplanatif

Penelitian eksplanatif (penjelasan) merupakan yang paling penting dari seluruh penelitian lainnya. Dengan arti tipe pengetahuan ini mencakup tiga pengetahuan  lainnya. Jika para peneliti dapat menjelaskan satu perangkat fenomena, artinya mereka dapat mendeskripsikan, meramalkan, dan mengontrol fenomena dengan tingkat kepastian dan akurasi yang tinggi. Penelitian eksplanasi memberikan teori-teori mengenai gejala-gejala yang akan diselidiki. Banyak teori-teori penting yang telah dikembangkan oleh para peneliti pendidikan. Sebagai contoh adalah teori produktivitas pendidikan yang telah dikembangkan oleh Herbert Walberg. Teori tersebut, memiliki persamaan dengan teori yang dikembangkan oleh Benyamin Bloom, John carroll, Robert Glaser, dan lainnya yang berusaha menjelaskan mengapa beberapa siswa belajar lebih banyak dari siswa lainnya dan bagaimana belajar dapat ditambah. Ilmu pengetahuan teoritis merupakan sesuatu yang penting kerena akan memberikan “formula” yang lebih ringkas untuk meramalkan dan mengontrol gejala-gejala yang menyangkut individu-individu yang berbeda , setting, dan kejadian pada waktu yang berbeda.

Herberg Walberg (dalam Walter R. Berg) memberikan summary bahwa penelitian pendidikan menghasilkan empat jenis pengetahuan penting yaitu: deskripsi mengenai fenomena pendidikan; prediksi mengenai fenomena pendidikan; informasi mengenai pengaruh-pengaruh dari peningkatan-yang berorientasi intervensi; dan teori-teori. Dalam merefleksikan kerja mereka, para peneliti pendidikan memelihara pengembangan ilmu pengetahuan baru mengenai bagaimana merencanakan dan melaksanakan penelitian.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys